Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Aku dibunuh diriku sendiri

Aku sampai pada tahap dimana nadiku tidak lagi berdenyut dalam penjara ini. Ingin ku keluar, tapi aku terkunci. Ingin ku bebaskan, tapi aku terpasung. Parahnya, ingin ku bertahan tapi aku melemah. Perlahan.. ritme jantungku berdetak tak berirama. Hingga aku tidak mengerti bagaimana aku bisa terkulai lemas dilantai. Karena hanya satu yang ku ingat, saat itu pandanganku seketika menghitam. Dan ketika aku tersadar, hanya satu yang kupahami.. bahwa kini, aku sedang membunuh diriku sendiri didalam penjara ini.

11 MEI, kenangan dari 14 april 2017

hingga senja di sebelas mei ini, aku masih saja memutar rekaman indah yang pernah kita lalui bersama.  Kau ingat, Pada salah satu senja lalu, aku pernah berbisik tentang rinduku kepada satu-satunya lelaki yang inisial namanya ku tulis dekat dengan hatimu ?? Semenjak kau pergi, laki-laki itu yang harus menanggung segala ketidakbisaanmu menemaniku.  Kadang aku malu pada aku yang dulu begitu gagahnya menembus segala musim bersamamu , sedang kini aku harus bergantung pada laki-laki yang tidak seharusnya ku buat sibuk dengan ketidakbisaanku.  Dan kadang aku sedih pada ketidakbisaanku mempertahankanmu meski hanya untuk menyembuhkan luka ditubuhmu, padahal kamu telah bersedia menukar redupmu dengan sinarku. Hatiku selalu berhasil dipora-porandakan kenangan saat kita bersama dan kelenjar bening itu selalu berusaha membuktikan kepadamu, bahwa aku begitu merindukanmu.

Herbivora, kenangan dari 14 april 2017

Dia memang tidak membuatku menyatukan diri pada kegelapan,  tapi dia membuatku menjelma menjadi herbivora yang setia pada obatnya. Aku selalu mencoba menjelma sebagai Herbivora yang begitu apik menyembunyikan segala sakitnya, tapi kadang segala usahaku bertuan pada kegagalan.  Atau kadang aku selalu mencoba menjadi herbivora yang Seperti ibu bilang "jangan pernah kalah dengan kata tidak bisa" , tapi nyatanya aku selalu diam-diam menangisi ketidakbisaaanku untuk membuat tinta hitam menari indah diatas kertas putih. Aku sebisa ku menjadi herbivora yang selalu tersenyum, meski kadang dihantam rasa sakit dari berbagai sisi dan kemudian menangis untuk mengalahkan segalanya. Bagaimanapun kamu menjelmakan diriku yang sekarang, aku begitu berhutang ribuan terimakasih padamu. Dan perlu kau ketahui, aku rindu menyaksikan fajar yang malu-malu untuk keluar atau menghabiskan senja yang perlahan-lahan tenggelam tanpa menyisakan penyesalan bersamamu.

Ujung Tepian Kita

Seperti sungai yang bendungannya sudah dihancurkan, maka mengalirlah ! Ikuti setiap arus-Nya. Jangan terlalu terburu-buru menyelesaikan satu arus, karena begitu arus ini selesai akan kau dapati arus yang lebih deras.. lebih terjam dan lebih curam. Tak perlu khawatir, seterjam dan securam apapun arusnya aku akan selalu disampingmu !!  Aku disampingmu Bukan untuk memaksamu cepat-cepat menyelesaikan arusnya, tapi untuk membantumu menyelesaikan arus itu, lalu keluar dan memulai lagi arus yang baru.  Percayalah, aku adalah air paling tenang yang takkan meminta ujung tepian sebelum kamu menawarkan. Karena bagiku, bisa mengalir dan melewati berbagai arus bersamamu saja sudah merupakan suatu kebahagiaan. Jadi, teruslah mengalir bersamaku ! hingga kita bisa menentukan tujuan ujung tepian kita !!

Jika semisal dibunuh bukan

Semisal aku tinta, maka perkenankanlah aku menari diatas kertas putihmu. Atau semisal aku rindu, maka perkenankanlah aku bersemayam dalam hatimu. Tapi jika "semisal dibunuh bukan", maka cukup perkenankan aku melantunkan syair-syair sajakku sebagai hadiah kecil untukmu. Seumpama hadiahku terlalu sederhana, mungkin aku bisa menawarkan hadiah lain untukmu. Kau tau apa itu ? Itu adalah segala rasa yang serba terlalu padamu, terutama rasa cintaku. Karena semenjak hari itu, mencintaimu telah menjadi kebiasaanku. Andai imajimu menafsirkan ini sebagai rayuan, sungguh aku tak pernah bermaksud merayumu, Karena itu bukan kebisaanku. Aku hanya bingung yang terjebak dalam kata, untuk mengucapkan AKU MENCINTAIMU. Atau mungkin aku hanya kata yang terjebak dalam doa, SEMOGA AKU DAN KAMU AKAN SELALU MENJADI KITA. Dan jika kataku kau nilai berlebihan, maka biar ku tutup sajakku dengan pernyataan yang harus kau sampaikan kepada ibumu, "AKU MENCINTAI ANAK LAKI-LAKINYA YANG BERNAMA...

Si Autis

Sungguh jika memang kalian pandai menerjemahkan. kali ini, kalian telat gagal !! Andai sang ibu bisa melakukan penawaran, mungkin dia juga akan meminta anak yang sama seperti kita. Sehat badan, sehat akal, sehat mental, sehat segalanya. Tapi sayangnya Dia tidak bisa melakukan penawaran kepada Tuhan. Karena setelah PINTA kita hanya tinggal menunggu apa yang diBERIkan. Atau mungkin jika Anak itu bisa membuat perjanjian dengan Tuhan, Anak itu akan membuat perjanjian tentang jiwa dan raganya yang ingin terlahir normal. Tapi, sayangnya kehidupan bukan soal perjanjian. Tolong, berhentilah mengeluarkan ocehan nyinyir kalian !! Tidakkah kalian lihat ? Argumen kalian sudah terjawab dengan sikap seorang ibu yang tetap sabar walau mendengar banyak caci dan maki. Aku bukan menilai, sungguh kebisaan ku bukan sebagai penilai. Tapi dari kata-kata "TENANG, KAN ADA MAMA DISINI" sudah terbesit sebuah kepahaman tentang: Dia adalah Ibu luarbiasa dalam segala hal, bahkan dalam hal menyem...

Hujan 🌧

Diluar hujan.  Kau tau ? Wangi tanah yang tersiram hujan itu sama menyejukannya dengan wangi parfum milikmu. Sejuk.. nyaman .. begitu menenangkan. Hah.. aku mungkin begitu berlebihan. Tapi nyatanya aku selalu merasa senyaman ini setiap kali menikmati aromamu ataupun hujan. Diluar basah. Aroma itu membuatku de-javu. Suara rintik-rintik itu semakin besar, semakin membuat basah, semakin menguatkan aromanya. Kau tau ? Ini semakin membuat rindu dalam dadaku berdesak-desakan ! Diluar Dingin. Mereka masih enggan pergi, boleh ku minta satu hal padamu malam ini ? Sebentar saja.. temui aku dalam mimpi. agar sesak ini mendapat penetralnya.  Setidaknya barang sebentar.

Simalakama..

Aku bak buah simalakama yang mampu berubah warna, mulai dari hijau lalu menjadi ungu, berubah lagi menjadi merah, dan kemudian berubah menjadi kuning sebelum  akhirnya aku gugur untuk membusuk. Kata mereka, toksiditas yang ada pada diriku sangat tinggi sehingga berpotensi sebagai anti kanker. tapi kataku, justru  kadar rajunku yang tinggi sehingga mampu mematikan dengan seketika. Percayalah, sehebat apapun peneliti yang menyatakan bahwa aku memiliki senyawa kimia aktif, tapi yang paling mengenal diriku hanyalah aku sendiri. Jadi tolong jangan terlalu sering menilaiku, aku lebih tau siapa diriku !!!

Tetaplah...

Malam ini, akan ku hadiahi jiwamu dengan kertas putih dan tinta hitam : kata-kataku. "Ibarat purnama yang identik dengan gelap, maka biarkan dia dikenal dari kegelapannya. Atau mungkin ibarat mentari dengan panas, maka biarkan dia dikenal dari kepanasannya. Bagiku.. apapun sebutannya, mereka selalu bisa mempesona. Semua hanya soal cara pandang seseorang. Begitu juga kamu... bagaimanapun sebutan atau penilaian mereka semua, bagiku dirimu lebih dari sebutan sanguin. Untuk itu tolong jangan jadi seorang Avoidant hanya sebab argument seseorang. Karena yang perlu kamu Ketahui... bahkan mutiara tidak langsung lahir menjadi mutiara. Dia harus melewati proses yang panjang untuk disebut sebagai mutiara indah yang kemudian diperebutkan oleh ratusan pencintanya. Untuk itu, tetaplah jadi sanguin dan jangan pernah berubah menjadi Kolerik, melankolik atau Plegmatik." Tapi jika ragamu menyebut ini sebagai sebuah surat, maka tetaplah terus begitu, dan jangan pernah mengubahnya menja...

Mungkin kamu enggan

Kamu seakan menarikku dari taman bunga lalu menyeburkan aku dalam kolam penuh lumpur. Aku bingung dengan perkataanmu. Kadang meyakinkan, tapi kadang menjatuhkan. Perlu kamu tau,  ada masanya aku seperti karang yang kuat, meski diterjang ombak besar sekalipun. Tapi.. ada saatnya aku serapuh air yang beku. Kapan saja kamu menyentuhku maka saat itu pula hancurlah aku. Aku tidak bermaksud memutar-mutar pembicaraan ini. Maksudku... kamuu... hemm... bukan, maksudnya aku.. Aku begitu membutuhkanmu !! Bukan sekedar menginginkan dirimu. Dan untuk perkataanmu malam lalu, bisakah kau pertimbangkan sekali lagi ? Aku hanya ingin diperjuangkan bukan melulu memperjuangkan. Tapi jika kamu enggan, aku bisa mengerti..  Mungkin didiriku sudah tidak ada sesuatu lagi, hingga kamu enggan memperjuangkanku barang sedikit.

Purnama 💔

Hembusan angin tadi mengingatkanku pada senja yang pernah mengantarkan ku pada purnama yang begitu hangat, meski butiran bening dari langit terus berjatuhan. Pada purnama kali ini aku mempertanyakan semuanya... Tentang purnama yang kau janjikan !! Bukan ingin meminta kejelasan untuk sebuah ikatan.. Aku hanya ingin sebuah kepastian untuk purnama yang pernah kau janjikan !! Mengapa harus ada purnama itu ?? Mengapa kau harus menjebakku dalam satu purnama yang sudah kita ketahui bahwa itu adalah kesalahan ?? Lewat senyumanmu kemarin aku paham, bahwa senyum itu memang bukan milikku. senyummu diam-diam membuatku merasa kesakitan. Dan kini aku sadar, bahwa purnama kala itu hanya kau anggap sebagai sebuah prasasti. Sedangkan aku terus menganggap purnama kala itu sebagai sebuah arsip.