Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

MAU 🍁

Ada mau yang mungkin bisa jadi jawaban. Ada mau yang mungkin bisa jadi pertanda. Juga ada mau yang mungkin bisa jadi ajakan. Pada dasarnya kata mau penuh dengan kesamaran. Itu sebabnya kita perlu nada dan tekanan untuk mempertegas kata mau yang sebenarnya. Kata mau juga perlu di iringi dengan kata atau kalimat lainnya. Meski sudah ada nada dan tekanan, kadang orang masih suka bingung mengartikan mau yang dimaksud. Itu sebabnya kadang orang salah mengartikan tulisan mau yang kita sampaikan. Karena tulisan tidak punya nada dan tekanan. Tapi untuk orang yang mengerti, tulisan bisa jadi punya rasa yang bisa mempertegas kata mau tanpa harus mendengar nada dan tekanannya. Maka, berdamailah kamu dengan tulisanmu. Bisa jadi dia mampu menyampaikan mau-mu dengan sebuah rasa. Hingga mau-mu jelas maksudnya meski tanpa nada dan tekanan.

INGIN 🍃

Aku ini hanya sebuah ingin yang hadir dari ayah dan ibuku. Bedanya, ingin yang mereka mau bisa ter-realisasikan didunia nyata . Aku ini hanya sebuah ingin yang hadir dengan sedikit paksaan pada kakak-kakakku. Bedanya, ingin yang dipaksakan kepada mereka hadir dengan wajah dan tubuh yang menggemaskan. Makanya mereka mau terima. 😅 Aku ini hanya sebuah ingin yang hadir dari alam bawah sadar kekasihku. Bedanya, ingin yang ia datangkan kadang tak bisa aku sempurnakan dengan inginku yang nyata. Aku ini hanya sebuah ingin yang tidak diingini oleh diriku sendiri. Bedanya, ingin yang aku tolak itu selalu ingin dijalani.

...harap antara gunung dan hutan...

Pernah suatu ketika, pada siang yang berharap bertemu senja indah dipuncak gunung. Juga pada siang yang berharap bertemu dingin dalam hangatnya dekapan  hutan pinus. Namun seketika harapnya raib. Tenggelam oleh isak yang sebelumnya tertahan dan kemudian  keluar dari bendungannya. Seketika harapnya semu. Hilang oleh diam yang sebelumnya selalu ditumpuk, dan kemudian keluar raung dari lingkar suaranya. Seketika.. sekelilingnya menatap dengan bingung yang sama. Namun dia tetap dalam tangisnya, tetap dalam peluk kasihnya, tetap pada pertanyaan yang selama ini dia simpan sendiri, tetap mencoba mencari jawaban dari sepasang mata yang ia tatap. Lalu dalam dekapan hutan pinus yang hari itu ramai oleh para pencari damai, ia justru tak menemukan Damai yang ia cari. Sekali lagi, sekelilingnya menatap canggung dan bingung. Hingga ia memutuskan untuk pergi. dan mencari damai dibalik bantal, untuk kemudian melebur emosi dalam mimpi.