Pernah suatu ketika, pada siang yang berharap bertemu senja indah dipuncak gunung. Juga pada siang yang berharap bertemu dingin dalam hangatnya dekapan hutan pinus.
Namun seketika harapnya raib. Tenggelam oleh isak yang sebelumnya tertahan dan kemudian keluar dari bendungannya.
Seketika harapnya semu.
Hilang oleh diam yang sebelumnya selalu ditumpuk, dan kemudian keluar raung dari lingkar suaranya.
Seketika.. sekelilingnya menatap dengan bingung yang sama.
Namun dia tetap dalam tangisnya, tetap dalam peluk kasihnya, tetap pada pertanyaan yang selama ini dia simpan sendiri, tetap mencoba mencari jawaban dari sepasang mata yang ia tatap.
Lalu dalam dekapan hutan pinus yang hari itu ramai oleh para pencari damai, ia justru tak menemukan Damai yang ia cari.
Sekali lagi, sekelilingnya menatap canggung dan bingung.
Hingga ia memutuskan untuk pergi. dan mencari damai dibalik bantal, untuk kemudian melebur emosi dalam mimpi.
Selamat malam untuk kamu yang ada disana. Kamu yang diam-diam masih menyisihkan waktu untuk mencari tau kabarku , yang masih menyisihkan waktu untuk mampir di duniaku, walau hanya untuk sekedar membaca tulisan tak bermutu. Apa kabarmu ? Semoga selalu baik-baik saja . Aku tau mungkin kamu terkejut atau mungkin penasaran setelah membaca judul postinganku saat notif di handphonemu muncul. Sebelumnya maaf sudah lancang membawamu masuk dalam duniaku. Maaf... Setidaknya , sekarang aku bisa menyampaikan maafku terlebih dahulu sebelum melukai hatimu (lagi). Tidak sepengecut dulu ! Setelah Melukaimu hingga patah berkeping, aku tak pernah hadir walaupun hanya untuk menyampaikan maaf. Sebenarnya bukan tidak bisa atau tidak boleh, hanya saja.. sejak awal aku sudah memutuskan, bahwa kamu hanya akan aku jadikan sebagai masalalu yang tidak akan pernah aku ganggu lagi hidupnya, setelah luka yang terakhir itu. Tekad ku dulu seperti itu. Tapi kini, sepertinya dengan amat terpaksa a...
Komentar
Posting Komentar