Langsung ke konten utama

Hanya sebuah tulisan

Pada tulisanku yang mulai kesepian...
Aku pernah bertanya padamu,
Butuhkah aku teman dalam hidupku ?
Kamu tidak menjawab,
Tapi tiba-tiba kau kirimkan aku seseorang yang lebih dari sekedar teman.

Aku mulai melewati hariku bersamanya.
Meski semakin lama kami bersama, aku semakin meragukan kehadiranku dalam hidupnya.
Aku merasa ada dinding tinggi yang menghalangi kami untuk tetap bersama !
Lalu aku kembali bertanya padamu,
Haruskah aku bertahan dan mencoba merobohkan dinding tinggi itu ?
Kamu masih tidak menjawab,
Namun kamu memberi aku kekuatan untuk bertahan dan menghancurkan dindingnya.


Akupun mulai percaya bahwa semua hanya keraguanku.
Dan hidupku berubah menjadi sebuah rasa yang sulit ku tuliskan.
Aku begitu terlena oleh kesemuan.
Bahkan aku sempat berharap semua kesemuan ini adalah sebuah kenyataan !
Saat aku terbangun disisinya, aku selalu merasa lega karena duniaku masih sama indahnya.


Namun pada suatu malam yang tidak pernah ku sangka akan menjadi malam terakhirku bersamanya,
Aku terus memandangi wajahnya yang sedang terlalap.
Malam itu.. entah mengapa aku merasakan sesak luarbiasa.
Malam itu.. hatiku seakan mendapat firasat tidak enak yang entah datang darimana.
Malam itu.. aku hanya bisa menahan isakku sambil memeluk tubuhnya.
Malam itu... untuk pertama kalinya rasa takut kehilangan dirinya hadir dengan begitu kuat.
Malam itu... aku enggan bertemu dengan mentari esok pagi, aku enggan melepaskan pelukanku darinya, aku enggan membiarkannya pergi keluar rumah.
Malam itu.. aku merasa itu akan menjadi malam terakhir aku bisa memandangi wajahnya sambil memeluk tubuh hangatnya.
Tapi malam tak mengerti perasaanku sedikitpun, mentari tetap menyambutku dengan sinarnya yang cerah, lalu aku hanya terdiam ketika dia berkata harus melakukan aktifitasnya seperti biasa.
Aku tidak mengatakan apapun padanya, aku hanya mampu menahan airmataku agar tak jatuh tepat didepannya.


Pagi itu adalah pagi terakhirku melihat dia tetap terlelap disampingku.
Pagi itu terakhir kali aku menyiapkan segala yang ia butuhkan.
Pagi itu juga menjadi pagi terakhirku yang cerah !
Pagi itu terakhir kalinya aku menjadi aku seutuhnya...
Karena esoknya aku sudah kehilangan segalanya....
Esoknya Aku bukan hanya kehilangan seseorang yang lebih dari sekedar teman, tapi juga kehilangan semangat untuk tetap hidup seperti sebelumnya.
Sejak hari itu, Aku merasa diriku hanya sebuah jasad  yang tak bernyawa.
Aku tidak bisa pergi, juga tidak bisa bertahan.
Aku memutuskan untuk menjalani semua tanpa perlawanan.
Akupun beberapakali menyerahkan diri ketika dihadapkan oleh kematian.
Tapi Sang pemilik hidup masih menugaskanku untuk berjuang.
Jadi jika kamu masih melihat aku baik-baik saja sampai hari ini.
Itu bukan bearti  aku tidak pernah terluka ! Baik dulu ataupun sekarang.
Aku hanya selalu mencoba menyembunyikan luka-luka tersebut dari sudut pandang setiap pasang mata yang menatapku.
Saat kamu mengenal namaku, kamu hanya akan menemukan kisah bahagiaku.
Dan jangan pernah mencoba mengenal diriku, karena yang akan kamu temukan hanya sosok manusia paling menyedihkan !

Kali ini aku tidak akan bertanya padamu,
Aku hanya ingin menuliskan tulisanku padamu.
Tulisan yang mungkin sudah tidak punya alasan mengapa ia terus bertahan,
Namun aku harap tulisan ini akan sampai pada malaikat yang kelak ingin mengetahui sosok wanita seperti apa mencoba mempertahankannya ditengah badai kehidupan.



Karangsari, 21 April 2020..


LangitSenja,.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentangmu, hanya sebuah masalaluku 🍁

Selamat malam untuk kamu yang ada disana. Kamu yang diam-diam masih menyisihkan waktu untuk mencari tau kabarku , yang masih menyisihkan waktu untuk mampir di duniaku, walau hanya untuk sekedar membaca tulisan tak bermutu. Apa kabarmu ? Semoga selalu baik-baik saja . Aku tau mungkin kamu terkejut atau mungkin penasaran setelah membaca judul postinganku saat notif di handphonemu muncul. Sebelumnya maaf sudah lancang membawamu masuk dalam duniaku. Maaf... Setidaknya , sekarang aku bisa menyampaikan maafku terlebih dahulu sebelum melukai hatimu (lagi). Tidak sepengecut dulu ! Setelah Melukaimu hingga patah berkeping, aku tak pernah hadir walaupun hanya untuk menyampaikan maaf. Sebenarnya bukan tidak bisa atau tidak boleh, hanya saja.. sejak awal aku sudah memutuskan, bahwa kamu hanya akan aku jadikan sebagai   masalalu yang tidak akan pernah aku ganggu lagi hidupnya, setelah luka yang terakhir itu. Tekad ku dulu seperti itu. Tapi kini, sepertinya dengan amat terpaksa a...