Kerlipan bintang malam yang menjadi saksi genggaman kita.
Puluhan cangkir kopi yang menjadi teman kita berbagi cerita.
Dan ujung purnama yang menyadarkan kita untuk segera pulang.
Tidak kah kau ingat sedikit tentang itu ?
Apa kamu memang seegois ini ? Membiarkan bibirmu berkata kamu baik-baik saja tanpa aku.
Sedang hatimu, ku tau sedang menangis pilu.
Apa aku sudah tidak lagi ada dalam prioritas yang harus kau bahagiakan ?
Apa aku sudah tidak pantas lagi menemanimu menyaksikan senja dan melewati purnama ?
Tidak juga kah kau tau ?
Hatiku sungguh rindu dan pilu melihat sikap egoismu itu.
Engkau lupakan aku . Semua usahaku .
Semua pagi dan malam kita.
Sungguhkah tak ada lagi seseorang yang harus ku tunggu didepan pintu ?
Sungguhkah tak ada lagi seseorang yang harus ku rayu ?
Jika memang begitu,
mungkin benar katamu, bahwa aku bukan tempat pulangmu.
Selamat malam untuk kamu yang ada disana. Kamu yang diam-diam masih menyisihkan waktu untuk mencari tau kabarku , yang masih menyisihkan waktu untuk mampir di duniaku, walau hanya untuk sekedar membaca tulisan tak bermutu. Apa kabarmu ? Semoga selalu baik-baik saja . Aku tau mungkin kamu terkejut atau mungkin penasaran setelah membaca judul postinganku saat notif di handphonemu muncul. Sebelumnya maaf sudah lancang membawamu masuk dalam duniaku. Maaf... Setidaknya , sekarang aku bisa menyampaikan maafku terlebih dahulu sebelum melukai hatimu (lagi). Tidak sepengecut dulu ! Setelah Melukaimu hingga patah berkeping, aku tak pernah hadir walaupun hanya untuk menyampaikan maaf. Sebenarnya bukan tidak bisa atau tidak boleh, hanya saja.. sejak awal aku sudah memutuskan, bahwa kamu hanya akan aku jadikan sebagai masalalu yang tidak akan pernah aku ganggu lagi hidupnya, setelah luka yang terakhir itu. Tekad ku dulu seperti itu. Tapi kini, sepertinya dengan amat terpaksa a...
Komentar
Posting Komentar