Sabtu, 25 november 2011.. Untuk pertama kalinya aku merasakan hatiku
berdebar sebab lelaki. Diujung aula itu aku melihat sesosok lelaki dengan
full set seragam putih abu-abunya.
tidak tampan memang, namun wajahnya cukup manis untukk terus dilihat
dalam dunia baruku.
" del.. Delia.. Deliaaaaaa..."panggil sahabatku raina yang setengah teriak
"ehh.. Iya kenapa rai ?" segera ku sadarkan diri yang terlalu asik menataap Dia.
'liatin apa sih ? Emang ada cowo yang ganteng apa sampe segitu fokusnya
buat lo liatin ?" tanya raina
"ga ada apa-apa ko rai..gue tadi cuma lagi mengamati sekolah baru kita aja rai"
jawabku untuk mengalihkan pembicaraan tentang cowo itu
"yakin del lo liatin sekolah bukan liatin cowo ?" desak raina yang memang
sudah terlanjur penasaran.
"yakin rainaku sayangg.. gue cuma penasaran aja katanya kan sekolah baru kita itu sekolah paling keren ditangerang,makanya gue penasaran hehe"
jawabku cobaa meyakinkan raina
"hem... Gue coba percaya tapi awas kalo lo bohong, bakal gue marahin seumur hidup" sahutnya sambil cemberut
"siapppp komandan.. " jawabku sambil berlaga seperti polisi yang
sedang hormat.
"jadi kita mau nyari kelas atau mau terus ngobrol disini rai ?" tanyaku
" ya nyari kelas lah.. Yukk" tanganku lekas digandeng oleh raina
"akhirnya kekepoannya teralihkan " batinku
Kamipun bergegas mencari nama kami dalam list nama yang ditempel di depanmading.
Kami bergandengan tangan sambil melewati ramainya suasana koridor depan mading tersebut.
Sesampainya kami didepan mading,
ku eja satu demi satu nama yang tercantum dalam list itu.
Dan....
"rai.... Nama gue ketemu" teriakku
"mana del ? Ko nama gue ga ada yah del ? " raina masih sibuk mencari namanya tanpa memalingkan wajahnya ke jariku yang jelas-jelas sedang menunjuk ke
list nama yang didalamnya tertulis namaku dan namanya.
"rai... Kalo nyarinya disitu ga bakalan ketemu. Ini loh rai.. Nama kita ada di list
kelas 7d" jelasku sambil memaksa wajahnya untuk melihat nama yang ku
tunjuk.
" del.. Kita sekelas ? Seriusann ? Ahhhh delia... Kita sekelas lagi " teriaknya
sambil kegirangan dan sambil memelukku.
" iyah kita sekelas lagi rai.. Setelah 3 tahun kita beda kelas akhirnya gue bisa punya temen sebangku yang rajin nyatet.. Hehe " jawabku seraya
membalas pelukannya.
Benar. raina adalah sahabatku sejak kecil, kami sudah satu sekolah sejak
taman kanak-kanak. Hanya pas ketika kami smp kami harus masuk kelas yang berbeda. namun itu tak mempengaruhi persahabatan kami. kami tetap erat dan saling menyayangi seperti kakak-adik.
Aku memang anak tunggal, ayahku sering sekali kerja keluar kota. Beliau punya tanggung jawab besar ditempatnya bekerja.
Itu sebabnya ayah sering menitipkanku dirumah keluarga raina.
Lalu ibuku... Dia menukar nyawanya untuk kehidupanku.
Yaa... Beliau meninggal ketika melahirkan anak perempan yang mungil.
Yang seharusnya ia beri ASI selama 2tahun. Yaang seharusnya ia ninabobokan lagi saat tangisnya memecahkan keheningan malam. Yang seharusnya bisa ia dandani dengan gaun atau pernak-pernik anak perempuan yang lucu.
Yang seharusnya bisa ku panggil IBU dan ku peluk ketika aku rindu.
anak perempuan yang mungil itu adalah AKU !!
Kadang aku merasa bersalah..... Tapi kata ayah, ibu lebih mencintaiku
dibandingkan hidupnya. Itu sebabnya beliau lebih memilih menukar hidupnya
dengan hidupku.
Entah perkataan ayah benar, atau hanya untuk menghibur kesedihan serta rasa bersalahku, tapi hingga kini aku begitu meyakini kata-kata ayah. Sehingga rasa cintaku untuk ibu selalu bertambah setiap hari.
Aku begitu mencintai ibu seperti beliau yang begitu mencintai hidupku dan ayahku.
Untuk itu, selama ini aku tidak pernah memandang wajah pria manapun.
Aku hanya melihat kearah ayah.
Ayah yang begitu mencintai ibu, karena sejak aku kecil hingga sekarang,
ayah tak pernah memandang wajah perempuan manapun kecuali wajah ibu
yang abadi dalam potret pernikahan mereka. Aku tak pernah sampai hati untuk mengatakan kepada ayah bahwa putri yang paling ia sayangi akan membagi
cintanya kepada lelaki yang baru di kenalnya. Aku takut ayah sedih.. Takut ayah kembali merasa kehilangan.. Takut ayah kembali meneteskan airmata.
Aku begitu takut hingga rasa takut itulah yang menjadi sebab aku hanya dekat
dengan raina. Karena meskipun aku punya banyak teman perempuan dikelas
tapi tak pernah ada yang seperti raina. Yang selalu menjagaku,
yang selalu melindungiku dari godaan cowo-cowo nakal, yang selalu menjadi
tempat saat aku butuh didengarkan, yang selalu ada saat aku merasa kesepian, dan yang selalu memberi pelukan hangat saat aku merindukan pelukan seorang ibu. Hanya raina yang mampu menjadi lebih dari sekedar sahabat untukku.
"Del... Deeellliiiaaaaaa....." teriakan raina bigitu memekakan telinga, dari nada suaranya jelas bahwa dia marah padaku
" bengong lagi.. Kenapa sihh del ? Lo sakit ? Atau lo ada masalah ?
Cerita del cerita ke gue" pertanyaan raina yang bertubi-tubi membuatku sadar,
bahwa aku sedang bersama manusia yang super bawel.
"hemmm.... Gue gΓ k kenapa-kenapa ko rai, gue sehat-sehat aja dan gue lagi ga ada masalah, jadi ga ada yang harus diceritaiin rai. Gue cuma masih ga
nyangka aja kita bisa sekelas lagi hehe " aku mencobaa menenangkan raina
" lo ga lagi bohong kan del ? " selidiknya
" mana bisa sih rai gue bohong sama lo, lo selalu tau semuanya rai,
bahkan ngelebihin taunya bokap gue" kataku meyakinkan.
Semenjak hari itu, aku selalu memerhatikan cowo itu diam-diam,
tanpa menimbulkan rasa penasaran siapapun.
Tanpa sepenggetahuan siapapun aku mencari tau semua tentang dia.
Dia yang ternyata juga satu kelas denganku dan raina.
Namanya Raffa... Lulusan SMP terbaik ditangerang, juara umum pertama
disetiap semester di SMP-nya, cowo berpenampilan rapih dengan rambut klimis berwarna hitam, si pengguna kacamata, yang kacanya terlihat agak tebal,
pemilik lesung pipi disebelah kiri, pelajar yang cukup aktif dikelas ataupun pun
diekstraklikuler, penikmat senja sepulang sekolah, serta patung es paling dingindikelas.
Sulit dipercaya, aku bahkan sampai bisa mendeskripsikannya.
Ini kali pertama aku begitu tertarik dengan segala sesuatu tentang lawan jenis.
Tak ada salam perkenalan memang, aku hanya tak sengaja melihatnya ditengah-tengah ratusan siswa baru yang sedang mencari kelas mereka.
Tapi entah kenapa, rasanya hatiku berbeda sejak pertama kali memandangnya.
Setiap kali aku memandang ke arahnya, seperti ada aliran listrik yang menyambung langsung kehatiku, sehingga ia selalu berdetak kencang layaknya drum yang sedang dimainkan.
Mungkin aku berlebihan, tapi entahlah. Semua memang begitu rasanya.
Sampai pada satu ketika , saat aku tak berani lagi memandang kearahnya dan hatiku tak lagi kuizinkan berdetak karenanya.
Yah.. Saat itu saat yang paling aku bingungkan.
Saat ketika sahabatku bercerita panjang lebar tentang sosok pria yang ia kagumi sejak pertama masuk kelas. Tentang pria yang ia bilang selalu mengitari galaksi miliknya. tentang pria yang senyumannya mampu menjadi pasokan semangatnya. Tentang pria yang jika kehadirannya tak tertemukan, maka rindu berhasil menguasai hatinya. Juga tentang pria yang kriterianya sama persis seperti pria yang selama ini aku sukai.
Sahabatku juga menyukai pria yang ku sukai... Tidak, mungkin lebih dari sekedar suka. Mungkin sudah sampai pada tangga yang diberi nama CINTA.
Tuhan... Jika memang benar cinta hadir atas pemberianmu, mengapa harus pria yang sama dengan yang aku suka ???
Mengapa rasa jatuh cintaku sesakit ini ???
Mengapa sainganku adalah sahabatku sendiri ??
Tolong jawabbb.. Mengapa ???
Sudah hitungan bulan, sejak raina bercerita tentang sosok pria yang ia kagumi,
Namun hatiku masih terasa perih.
Mungkin ini yang disebut patah hati !!
Satu semester telah aku lalui dengan jatuh cinta diam-diam, juga dengan patah hati sendirian.
Kini tiba saatnya aku bisa sedikit melepaskan beban itu, aku tak perlu lagi sekelas dengan dia dan raina. Bukan tak ingin, akuu hanya tak bisa pungkiri bahwa hatiku selalu sakit ketika raina mencoba untuk mendekatkan diri dengan raffa.
Meski aku tau sikap raffa tak begitu tertarik, namun tak bisa dihindari jika raina selalu senang sendiri setiap habis bercengkrama dengannya. Aku bukan sok tahu, aku hanya mencoba membaca gerak-gerik raffa. Bukan tak mau bilaang pada raina, aku hanya tak pernah tega mematahkan jatuh cinta pertamanya. Karena jelas aku paham rasanya jatuh cinta dan patah hati yaang datang bersamaan itu sungguh menyakitkan.
Maka ku biarkan saja dia begitu. Biar hanya aku saja yang menjadi korban jatuh dan cintanya raffa. Tidak untuk Rainaa !! Dia hanya cukup tau cinta tanpa perlu patah.
Hari yang aku dan teman-teman tunggupun datang. Kami pergi berlibur kekota kembang.
Aku sengaja berangkat dengan mobil dan sopir yang ayah siapkan jika aku ingin bepergian. Bukan tanpa alasan. Aku sudah menyusun rencana untuk Raina dan Raffa. Agar mereka bisa duduk berdampinggan di bus pariwisata tersebut. Aku tau kadar kuat ku tak cukup banyak, itu sebabnya aku memutuskan melakukan perjalananku dengan fasilitas yang ayah beri.
Bahkan aku sempat memisahkan diri dari rombongan sekolahku.
Aku hanya ingin sendiri melawan semua rasa yang terus tumbuh meski tak ku beri izin.
Hingga pada malam punccak acara , ketua kelasku meminta semua siswa dan siswi 7d untuk berkumpul. Semuaaa... Tanpa terkecuali katanya.
Itu bearti akupun tak bisa absen dari pertemuan.
Sebelum mendatangi perkumpulan kelasku, tiba-tiba Raina menghampiri kamarku.
"Del... " panggilnya yang sembari meletakkan tubuhnya dikasur
"kenapa Rai ? Ada masalah sama lo ? Pedekate lo baik-baik aja kan ? Apa Raffa nyakitin lo ?" aku melayangkan banyak pertanyaan, entah ini rasa penasaran atau rasa kekhawatiran.
"hemmm... Baik ko del, Raffa ternyata anaknya baik, sopan, yaa sesuai ekspetasi gue lah" jawab Raina
" Tapi Del.. Justru ada hal lain yang sepertinya lagi gak baik-baik aja kalo gue perhatiin" lanjut Rai
"apaan Rai ? Rasanya semua normal-normal aja Rai" timpalku
" Gak del,, kita lagi gak baik-baik aja ! Lo sengaja ngejauhin gue. Bahkan sampai ga ikut berangkat di bus rombongan, lo kenapa sih Del ga cerita dari awal ?"
" apanya yang ngejauh sih Rai ? Gue berangkat sendiri karena gue kesiangan. kan gue udah bilang ke lo tadi." jawabku yang mencoba menjelaskan, meski hatiku mulai bertanya-tanya soal pertanyaan Raina yang terakhir
" oke gue terima alesan lo perihal bus, tapi lo belom jawab pertanyaan gue yang akhir Del." balas Raina
" yang akhir yang mana lagi Rai ? Udah ahh, yuuk kita ke tempat temen-temen yang lain" aku berusaha mengakhiri perbincangan kami dan mencoba menarik tangan Rai agar dia bangun dari kasur.
" gue serius Del.. " dia melepaskan tangannya dariku
"gue juga serius Rainaku yang teduh" aku mencoba menggodanya.
"yukk ahh cus Rai, bosen gue dikamar" aku kembali mencoba menarik tangannya untuk pergi dan tidak membahas soal ini.
"kenapa lo bohong Del ? Kenapa lo ga bilang ke gue pas gue cerita tentang cowo yang gue suka ke lo ? Kenapa lo malah nyembunyiin perasaan lo yang emang sebabnya dari sumber yang sama kaya perasaan gue ? Kenapa lo jadiin gue manusia paling tega yang udah ngerebut cinta pertama sahabat gue sendiri Del ? Kenapaaaaa ?" tanya Raina
Seketika lututku lemas, rasanya nadiku sempat berhenti berdenyut.
Bagaimana bisa rasa yang ku tutup rapat-rapat bisa tercium oleh RainΓ .
Bibirku keluh tak punya jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Raina kepadaku.
Namun aku tetap mencoba bersikap tenang, seolah yang raina tau hanya sebuah kesalahpahaman semata.
" lo ngomong apa sih Rai ? Gue kan ga pernah jatuh cinta sama Raffa, Rai. Dan lo dapet gosip murahan kaya gini dari siapa coba ?" sanggahku
" dari hati lo del... dari gerak-gerik lo dan juga dari patah hati yang coba lo sembunyiin dari gue" sambung Raina.
"ga ada yang gue sembunyiin Rai, udahlah Rai.. Jangan ngada-ngada terus. Nanti gue marah nih" jelasku
" lo emang berhak marah Del" jawab Raina yang kemudian diam dan berjalan lemas disampingku.
kami pun mengakhiri percakapan kami dengan diam seribu bahasa.
Tak ada satu kalimatpun yang kami keluarkan dalam pertemuan 7d yang sebagian besar memanfaatkan pertemuan ini sebagai moment seru-seruan.
Tapi tidak dengan aku dan Raina. Aku sibuk dengan pikiranku dan Raina mungkin sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kami terlalu awam untuk mengerti masalah yang seperti ini.
Dan aku terlanjur tak bisa lari dari kenyataan bahwa berpura-pura didepan
sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan.
Hingga Aku mulai berpikir, jika mungkin sebaiknya aku pergi jauh dari tempat mereka berada.
Memulai hidup baru sebagaia putri ayah yang selalu ikut kemanapun ayah pergiakan jauh lebih mudah untuk ku lalui.
Yaa.. Keputuusanku memang terlalu berat ,
namun aku tak pernah mau melihat sahabatku merasa bersalah dan kembali mempertanyakan hal-hal yang dengan susah payah kukubur sendiri.
Aku pun memberitahukan niat ku kepada ayah.
Meski awalnya beliau banyak bertanya namun akhirnya ayah mengizinkan dan berkata akan segera mengurus surat kepindahanku.
Entah harus bahagia atau bersedih. Aku menjadi sulit untuk membedakannya.
Kini aku tiba pada akhirnya.
aku sampai pada hari dimana aku akan berangkat bersama ayah.
Tidak ada yang ku beritahu tentang kepergianku. Bahkan Raina sekalipun.
Bukan tak ingin, aku hanya merasa itu terlalu sulit untuk disampaikan pada
mereka.
Aku yakin pasti akan banyak airmata yang tumpah jika ku utarakan niatku
untuk pergi. Dan aku tak ingin melihat itu !
Biar saja begini, biar mereka tau kepergianku lewat surat yang ku kirim pada Email Raina. Setidaknya meski ada airmata, mungkin tak sampai banyak.
Dan tak sampai menyesakkan.
Dan untukmu Raina, Ketahuilah.. Hingga sampai tulisan ini ku buat. Kamu
selalu menjadi sahabat terbaikku.
Sahabat yang tidak bisa digantikan oleh sahabat manapun.
Jika nanti luka hatimu yang aku sebabkan sudah sembuh sendiri,
semoga kamu kembali mau memanggilku sebagai sahabat lagi.
berdebar sebab lelaki. Diujung aula itu aku melihat sesosok lelaki dengan
full set seragam putih abu-abunya.
tidak tampan memang, namun wajahnya cukup manis untukk terus dilihat
dalam dunia baruku.
" del.. Delia.. Deliaaaaaa..."panggil sahabatku raina yang setengah teriak
"ehh.. Iya kenapa rai ?" segera ku sadarkan diri yang terlalu asik menataap Dia.
'liatin apa sih ? Emang ada cowo yang ganteng apa sampe segitu fokusnya
buat lo liatin ?" tanya raina
"ga ada apa-apa ko rai..gue tadi cuma lagi mengamati sekolah baru kita aja rai"
jawabku untuk mengalihkan pembicaraan tentang cowo itu
"yakin del lo liatin sekolah bukan liatin cowo ?" desak raina yang memang
sudah terlanjur penasaran.
"yakin rainaku sayangg.. gue cuma penasaran aja katanya kan sekolah baru kita itu sekolah paling keren ditangerang,makanya gue penasaran hehe"
jawabku cobaa meyakinkan raina
"hem... Gue coba percaya tapi awas kalo lo bohong, bakal gue marahin seumur hidup" sahutnya sambil cemberut
"siapppp komandan.. " jawabku sambil berlaga seperti polisi yang
sedang hormat.
"jadi kita mau nyari kelas atau mau terus ngobrol disini rai ?" tanyaku
" ya nyari kelas lah.. Yukk" tanganku lekas digandeng oleh raina
"akhirnya kekepoannya teralihkan " batinku
Kamipun bergegas mencari nama kami dalam list nama yang ditempel di depanmading.
Kami bergandengan tangan sambil melewati ramainya suasana koridor depan mading tersebut.
Sesampainya kami didepan mading,
ku eja satu demi satu nama yang tercantum dalam list itu.
Dan....
"rai.... Nama gue ketemu" teriakku
"mana del ? Ko nama gue ga ada yah del ? " raina masih sibuk mencari namanya tanpa memalingkan wajahnya ke jariku yang jelas-jelas sedang menunjuk ke
list nama yang didalamnya tertulis namaku dan namanya.
"rai... Kalo nyarinya disitu ga bakalan ketemu. Ini loh rai.. Nama kita ada di list
kelas 7d" jelasku sambil memaksa wajahnya untuk melihat nama yang ku
tunjuk.
" del.. Kita sekelas ? Seriusann ? Ahhhh delia... Kita sekelas lagi " teriaknya
sambil kegirangan dan sambil memelukku.
" iyah kita sekelas lagi rai.. Setelah 3 tahun kita beda kelas akhirnya gue bisa punya temen sebangku yang rajin nyatet.. Hehe " jawabku seraya
membalas pelukannya.
Benar. raina adalah sahabatku sejak kecil, kami sudah satu sekolah sejak
taman kanak-kanak. Hanya pas ketika kami smp kami harus masuk kelas yang berbeda. namun itu tak mempengaruhi persahabatan kami. kami tetap erat dan saling menyayangi seperti kakak-adik.
Aku memang anak tunggal, ayahku sering sekali kerja keluar kota. Beliau punya tanggung jawab besar ditempatnya bekerja.
Itu sebabnya ayah sering menitipkanku dirumah keluarga raina.
Lalu ibuku... Dia menukar nyawanya untuk kehidupanku.
Yaa... Beliau meninggal ketika melahirkan anak perempan yang mungil.
Yang seharusnya ia beri ASI selama 2tahun. Yaang seharusnya ia ninabobokan lagi saat tangisnya memecahkan keheningan malam. Yang seharusnya bisa ia dandani dengan gaun atau pernak-pernik anak perempuan yang lucu.
Yang seharusnya bisa ku panggil IBU dan ku peluk ketika aku rindu.
anak perempuan yang mungil itu adalah AKU !!
Kadang aku merasa bersalah..... Tapi kata ayah, ibu lebih mencintaiku
dibandingkan hidupnya. Itu sebabnya beliau lebih memilih menukar hidupnya
dengan hidupku.
Entah perkataan ayah benar, atau hanya untuk menghibur kesedihan serta rasa bersalahku, tapi hingga kini aku begitu meyakini kata-kata ayah. Sehingga rasa cintaku untuk ibu selalu bertambah setiap hari.
Aku begitu mencintai ibu seperti beliau yang begitu mencintai hidupku dan ayahku.
Untuk itu, selama ini aku tidak pernah memandang wajah pria manapun.
Aku hanya melihat kearah ayah.
Ayah yang begitu mencintai ibu, karena sejak aku kecil hingga sekarang,
ayah tak pernah memandang wajah perempuan manapun kecuali wajah ibu
yang abadi dalam potret pernikahan mereka. Aku tak pernah sampai hati untuk mengatakan kepada ayah bahwa putri yang paling ia sayangi akan membagi
cintanya kepada lelaki yang baru di kenalnya. Aku takut ayah sedih.. Takut ayah kembali merasa kehilangan.. Takut ayah kembali meneteskan airmata.
Aku begitu takut hingga rasa takut itulah yang menjadi sebab aku hanya dekat
dengan raina. Karena meskipun aku punya banyak teman perempuan dikelas
tapi tak pernah ada yang seperti raina. Yang selalu menjagaku,
yang selalu melindungiku dari godaan cowo-cowo nakal, yang selalu menjadi
tempat saat aku butuh didengarkan, yang selalu ada saat aku merasa kesepian, dan yang selalu memberi pelukan hangat saat aku merindukan pelukan seorang ibu. Hanya raina yang mampu menjadi lebih dari sekedar sahabat untukku.
"Del... Deeellliiiaaaaaa....." teriakan raina bigitu memekakan telinga, dari nada suaranya jelas bahwa dia marah padaku
" bengong lagi.. Kenapa sihh del ? Lo sakit ? Atau lo ada masalah ?
Cerita del cerita ke gue" pertanyaan raina yang bertubi-tubi membuatku sadar,
bahwa aku sedang bersama manusia yang super bawel.
"hemmm.... Gue gΓ k kenapa-kenapa ko rai, gue sehat-sehat aja dan gue lagi ga ada masalah, jadi ga ada yang harus diceritaiin rai. Gue cuma masih ga
nyangka aja kita bisa sekelas lagi hehe " aku mencobaa menenangkan raina
" lo ga lagi bohong kan del ? " selidiknya
" mana bisa sih rai gue bohong sama lo, lo selalu tau semuanya rai,
bahkan ngelebihin taunya bokap gue" kataku meyakinkan.
Semenjak hari itu, aku selalu memerhatikan cowo itu diam-diam,
tanpa menimbulkan rasa penasaran siapapun.
Tanpa sepenggetahuan siapapun aku mencari tau semua tentang dia.
Dia yang ternyata juga satu kelas denganku dan raina.
Namanya Raffa... Lulusan SMP terbaik ditangerang, juara umum pertama
disetiap semester di SMP-nya, cowo berpenampilan rapih dengan rambut klimis berwarna hitam, si pengguna kacamata, yang kacanya terlihat agak tebal,
pemilik lesung pipi disebelah kiri, pelajar yang cukup aktif dikelas ataupun pun
diekstraklikuler, penikmat senja sepulang sekolah, serta patung es paling dingindikelas.
Sulit dipercaya, aku bahkan sampai bisa mendeskripsikannya.
Ini kali pertama aku begitu tertarik dengan segala sesuatu tentang lawan jenis.
Tak ada salam perkenalan memang, aku hanya tak sengaja melihatnya ditengah-tengah ratusan siswa baru yang sedang mencari kelas mereka.
Tapi entah kenapa, rasanya hatiku berbeda sejak pertama kali memandangnya.
Setiap kali aku memandang ke arahnya, seperti ada aliran listrik yang menyambung langsung kehatiku, sehingga ia selalu berdetak kencang layaknya drum yang sedang dimainkan.
Mungkin aku berlebihan, tapi entahlah. Semua memang begitu rasanya.
Sampai pada satu ketika , saat aku tak berani lagi memandang kearahnya dan hatiku tak lagi kuizinkan berdetak karenanya.
Yah.. Saat itu saat yang paling aku bingungkan.
Saat ketika sahabatku bercerita panjang lebar tentang sosok pria yang ia kagumi sejak pertama masuk kelas. Tentang pria yang ia bilang selalu mengitari galaksi miliknya. tentang pria yang senyumannya mampu menjadi pasokan semangatnya. Tentang pria yang jika kehadirannya tak tertemukan, maka rindu berhasil menguasai hatinya. Juga tentang pria yang kriterianya sama persis seperti pria yang selama ini aku sukai.
Sahabatku juga menyukai pria yang ku sukai... Tidak, mungkin lebih dari sekedar suka. Mungkin sudah sampai pada tangga yang diberi nama CINTA.
Tuhan... Jika memang benar cinta hadir atas pemberianmu, mengapa harus pria yang sama dengan yang aku suka ???
Mengapa rasa jatuh cintaku sesakit ini ???
Mengapa sainganku adalah sahabatku sendiri ??
Tolong jawabbb.. Mengapa ???
Sudah hitungan bulan, sejak raina bercerita tentang sosok pria yang ia kagumi,
Namun hatiku masih terasa perih.
Mungkin ini yang disebut patah hati !!
Satu semester telah aku lalui dengan jatuh cinta diam-diam, juga dengan patah hati sendirian.
Kini tiba saatnya aku bisa sedikit melepaskan beban itu, aku tak perlu lagi sekelas dengan dia dan raina. Bukan tak ingin, akuu hanya tak bisa pungkiri bahwa hatiku selalu sakit ketika raina mencoba untuk mendekatkan diri dengan raffa.
Meski aku tau sikap raffa tak begitu tertarik, namun tak bisa dihindari jika raina selalu senang sendiri setiap habis bercengkrama dengannya. Aku bukan sok tahu, aku hanya mencoba membaca gerak-gerik raffa. Bukan tak mau bilaang pada raina, aku hanya tak pernah tega mematahkan jatuh cinta pertamanya. Karena jelas aku paham rasanya jatuh cinta dan patah hati yaang datang bersamaan itu sungguh menyakitkan.
Maka ku biarkan saja dia begitu. Biar hanya aku saja yang menjadi korban jatuh dan cintanya raffa. Tidak untuk Rainaa !! Dia hanya cukup tau cinta tanpa perlu patah.
Hari yang aku dan teman-teman tunggupun datang. Kami pergi berlibur kekota kembang.
Aku sengaja berangkat dengan mobil dan sopir yang ayah siapkan jika aku ingin bepergian. Bukan tanpa alasan. Aku sudah menyusun rencana untuk Raina dan Raffa. Agar mereka bisa duduk berdampinggan di bus pariwisata tersebut. Aku tau kadar kuat ku tak cukup banyak, itu sebabnya aku memutuskan melakukan perjalananku dengan fasilitas yang ayah beri.
Bahkan aku sempat memisahkan diri dari rombongan sekolahku.
Aku hanya ingin sendiri melawan semua rasa yang terus tumbuh meski tak ku beri izin.
Hingga pada malam punccak acara , ketua kelasku meminta semua siswa dan siswi 7d untuk berkumpul. Semuaaa... Tanpa terkecuali katanya.
Itu bearti akupun tak bisa absen dari pertemuan.
Sebelum mendatangi perkumpulan kelasku, tiba-tiba Raina menghampiri kamarku.
"Del... " panggilnya yang sembari meletakkan tubuhnya dikasur
"kenapa Rai ? Ada masalah sama lo ? Pedekate lo baik-baik aja kan ? Apa Raffa nyakitin lo ?" aku melayangkan banyak pertanyaan, entah ini rasa penasaran atau rasa kekhawatiran.
"hemmm... Baik ko del, Raffa ternyata anaknya baik, sopan, yaa sesuai ekspetasi gue lah" jawab Raina
" Tapi Del.. Justru ada hal lain yang sepertinya lagi gak baik-baik aja kalo gue perhatiin" lanjut Rai
"apaan Rai ? Rasanya semua normal-normal aja Rai" timpalku
" Gak del,, kita lagi gak baik-baik aja ! Lo sengaja ngejauhin gue. Bahkan sampai ga ikut berangkat di bus rombongan, lo kenapa sih Del ga cerita dari awal ?"
" apanya yang ngejauh sih Rai ? Gue berangkat sendiri karena gue kesiangan. kan gue udah bilang ke lo tadi." jawabku yang mencoba menjelaskan, meski hatiku mulai bertanya-tanya soal pertanyaan Raina yang terakhir
" oke gue terima alesan lo perihal bus, tapi lo belom jawab pertanyaan gue yang akhir Del." balas Raina
" yang akhir yang mana lagi Rai ? Udah ahh, yuuk kita ke tempat temen-temen yang lain" aku berusaha mengakhiri perbincangan kami dan mencoba menarik tangan Rai agar dia bangun dari kasur.
" gue serius Del.. " dia melepaskan tangannya dariku
"gue juga serius Rainaku yang teduh" aku mencoba menggodanya.
"yukk ahh cus Rai, bosen gue dikamar" aku kembali mencoba menarik tangannya untuk pergi dan tidak membahas soal ini.
"kenapa lo bohong Del ? Kenapa lo ga bilang ke gue pas gue cerita tentang cowo yang gue suka ke lo ? Kenapa lo malah nyembunyiin perasaan lo yang emang sebabnya dari sumber yang sama kaya perasaan gue ? Kenapa lo jadiin gue manusia paling tega yang udah ngerebut cinta pertama sahabat gue sendiri Del ? Kenapaaaaa ?" tanya Raina
Seketika lututku lemas, rasanya nadiku sempat berhenti berdenyut.
Bagaimana bisa rasa yang ku tutup rapat-rapat bisa tercium oleh RainΓ .
Bibirku keluh tak punya jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Raina kepadaku.
Namun aku tetap mencoba bersikap tenang, seolah yang raina tau hanya sebuah kesalahpahaman semata.
" lo ngomong apa sih Rai ? Gue kan ga pernah jatuh cinta sama Raffa, Rai. Dan lo dapet gosip murahan kaya gini dari siapa coba ?" sanggahku
" dari hati lo del... dari gerak-gerik lo dan juga dari patah hati yang coba lo sembunyiin dari gue" sambung Raina.
"ga ada yang gue sembunyiin Rai, udahlah Rai.. Jangan ngada-ngada terus. Nanti gue marah nih" jelasku
" lo emang berhak marah Del" jawab Raina yang kemudian diam dan berjalan lemas disampingku.
kami pun mengakhiri percakapan kami dengan diam seribu bahasa.
Tak ada satu kalimatpun yang kami keluarkan dalam pertemuan 7d yang sebagian besar memanfaatkan pertemuan ini sebagai moment seru-seruan.
Tapi tidak dengan aku dan Raina. Aku sibuk dengan pikiranku dan Raina mungkin sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kami terlalu awam untuk mengerti masalah yang seperti ini.
Dan aku terlanjur tak bisa lari dari kenyataan bahwa berpura-pura didepan
sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan.
Hingga Aku mulai berpikir, jika mungkin sebaiknya aku pergi jauh dari tempat mereka berada.
Memulai hidup baru sebagaia putri ayah yang selalu ikut kemanapun ayah pergiakan jauh lebih mudah untuk ku lalui.
Yaa.. Keputuusanku memang terlalu berat ,
namun aku tak pernah mau melihat sahabatku merasa bersalah dan kembali mempertanyakan hal-hal yang dengan susah payah kukubur sendiri.
Aku pun memberitahukan niat ku kepada ayah.
Meski awalnya beliau banyak bertanya namun akhirnya ayah mengizinkan dan berkata akan segera mengurus surat kepindahanku.
Entah harus bahagia atau bersedih. Aku menjadi sulit untuk membedakannya.
Kini aku tiba pada akhirnya.
aku sampai pada hari dimana aku akan berangkat bersama ayah.
Tidak ada yang ku beritahu tentang kepergianku. Bahkan Raina sekalipun.
Bukan tak ingin, aku hanya merasa itu terlalu sulit untuk disampaikan pada
mereka.
Aku yakin pasti akan banyak airmata yang tumpah jika ku utarakan niatku
untuk pergi. Dan aku tak ingin melihat itu !
Biar saja begini, biar mereka tau kepergianku lewat surat yang ku kirim pada Email Raina. Setidaknya meski ada airmata, mungkin tak sampai banyak.
Dan tak sampai menyesakkan.
Dan untukmu Raina, Ketahuilah.. Hingga sampai tulisan ini ku buat. Kamu
selalu menjadi sahabat terbaikku.
Sahabat yang tidak bisa digantikan oleh sahabat manapun.
Jika nanti luka hatimu yang aku sebabkan sudah sembuh sendiri,
semoga kamu kembali mau memanggilku sebagai sahabat lagi.
Komentar
Posting Komentar