Dan saat aku marah, aku hanya rindu caramu menarik lenganku agar melingkari pinggangmu.
Aku hanya rindu caramu, memainkan gas motormu.
Aku hanya rindu tatapanmu lewat spion motormu.
Aku hanya rindu caramu menyatakan kata maaf dengan raut wajah yang membuatku ikut sedih.
Aku hanya rindu dengan candaan absurd yang entah mengapa bisa membuatku tertawa.
Saat ini aku hanya ingin mencari kebenaran,
Mungkinkah aku benar-benar marah padamu ?
Jika marah masih diselimuti rindu yang tebal ?
Rasanya aku terlalu kekanak-kanakan untuk mempertanyakan hal demikian.
Tapi pada malam yang entah mengapa anginnya terasa begitu menggigil, aku berserta rinduku tak bisa lagi bersembunyi dibalik keegoisan remajaku yang dulu.
Hingga fajar hampir bersiap-siap untuk keluar, mataku masih enggan terpenyamkan.
Tak ada yang salah dengan apa yang aku konsumsi tadi siang, ini hanya soal hati yang ingin mengatakannya padamu, meski hanya melalui pesan singkat yang ku kirim pada ponselmu.
Kau tau apa itu ?
Itu hanya sekedar kata "MAAF" , juga kata pengakuan bahwa "AKU TERLALU MENCINTAIMU" . bahkan hanya untuk memalingkan rinduku sebentar saja aku tidak mampu.
Jadi diujung purnama ini, disaat jingga mulai menyiapkan semburan-semburannya yang indah, haruskah aku terlelap dengan perasaan yang serba tak karuan atas sikapku padamu ?
Selamat malam untuk kamu yang ada disana. Kamu yang diam-diam masih menyisihkan waktu untuk mencari tau kabarku , yang masih menyisihkan waktu untuk mampir di duniaku, walau hanya untuk sekedar membaca tulisan tak bermutu. Apa kabarmu ? Semoga selalu baik-baik saja . Aku tau mungkin kamu terkejut atau mungkin penasaran setelah membaca judul postinganku saat notif di handphonemu muncul. Sebelumnya maaf sudah lancang membawamu masuk dalam duniaku. Maaf... Setidaknya , sekarang aku bisa menyampaikan maafku terlebih dahulu sebelum melukai hatimu (lagi). Tidak sepengecut dulu ! Setelah Melukaimu hingga patah berkeping, aku tak pernah hadir walaupun hanya untuk menyampaikan maaf. Sebenarnya bukan tidak bisa atau tidak boleh, hanya saja.. sejak awal aku sudah memutuskan, bahwa kamu hanya akan aku jadikan sebagai masalalu yang tidak akan pernah aku ganggu lagi hidupnya, setelah luka yang terakhir itu. Tekad ku dulu seperti itu. Tapi kini, sepertinya dengan amat terpaksa a...
Komentar
Posting Komentar